Kemungkinan kamu pernah dengar sekelumit cerita seram sekitar kejamnya ibu mertua (yang ucapnya dapat nyaingin kejamnya ibu tiri). Atau ketusnya figur ayah mertua waktu sang pria punya niat serius melamar si pacar. Beberapa kesan semacam ini sering dilukiskan dalam bermacam media, dimulai dari film sinetron tv, majalah sampai novel pertalian cinta. Dibandingkan kesan-kesan positifnya, rasanya beberapa mertua semakin banyak bisa cap negatif. Dasarnya amit-amit dech jika sampai hidup serumah sama mertua. Bisa-bisa terkena stroke, makan hati setiap hari.

Nah, tulisan kesempatan ini kemungkinan sedikit lebih individual, sebab dicatat berdasar pengalaman individu penulis dan beberapa temannya yang punyai pendapat berlainan mengenai figur mertua yang ucapnya sering menjadi aktor antagonis dalam rumah tangga. Bisa saja , tulisan ini sebagai wakil banyak narasi di luaran sana, mengenai figur mertua yang dilukiskan berlainan. Sama dengan figur ibu tiri yang tidak selalu jahat dari orok, nah sama seperti seperti ibu mertua. Bisa saja, kamu cuman dengar narasi miring dari 1 segi saja. Bisa saja rekan kamu atau kamu sendiri belum betul-betul 100% mengambil hatinya. Yok, lanjut baca lagi agar wacana kamu sekitar figur mertua bertambah terbuka.

Pernah tidak dengar cerita, mengenai sang A yang selalu menyalahkan kebawelan sang mertuanya? Bahkan juga semenjak tetap menjadi calon mertua, sang A ini berasa selalu serba salah. Ada-ada saja hal yang selalu dinilai dari sang A. Dimulai dari langkah A mengolah, langkah berbusana, langkah rias, bawa barang, beli suatu hal bahkan bisa saja sampai triknya berbicara dengan pasangan yang notabenenya ialah anak dari sang camer.